Tips trik solusi mengatasi kabut asap

October 21, 2015

Tips trik solusi mengatasi kabut asap

Kabut asap

 

Kabut asap semakin menyebar di Dikutip dari harian analisa Medan, (Analisa). Kadar asap yang menyelimuti Kota Medan dan sekitarnya kembali menebal akibat bertambahnya hotspot (titik api) di Pulau Sumatera. Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Medan mencatat, hotspot yang bertambah tersebut berada di Sumatera Selatan, Jambi dan Riau.

Kondisi ini mengakibatkan jarak pandang di sekitar Sumatera Utara mencapai 1.500 meter. Kabid Data dan Informasi Wilayah I BMKG Medan, Sunardi, menyebutkan, Selasa (20/10), kadar asap sempat menurun pada saat hujan deras Minggu (18/10) malam, Senin 20 Oktober, tercatat jarak pandang sekitar 1.500 meter. Sebelumnya, saat hujan kemarin, (asap) malah sempat menurun. Memang, hotspot di sejumlah daerah di Pulau Sumatera justru bertambah. Malah ada yang sempat nol justru meningkat mencapai 30 hotspot,” sebutnya.

Asap yang menyelimuti Sumatera Utara Selasa ini berasal dari Sumatera Selatan (Sumsel), Jambi dan Riau. “Yang hari ini melanda Medan Sumut, asapnya berasal dari Sumsel, Jambi malah bertambah dari Riau. Tertanggal 20 Oktober 2015, tidak ada hotspot untuk di Sumut. Sebaliknya, meningkat di Riau, padahal beberapa hari lalu sempat nol dan menjadi 30 hotspot di Selasa ini. Yang di Sumsel juga bertambah sampai mencapai sekitar 690 hotspot. Kali ini (asap) memang lebih tebal lagi karena hotspot-nya memang semakin banyak dibanding kemarin, sebelum turun hujan deras yang lalu,” paparnya.

Meskipun hujan sempat mengurangi kadar asap, Sunardi menjelaskan hal tersebut tidak langsung membuat (asap) hilang di di tempat lain. “Kalau hujan itu ‘kan partikelnya turun bersama air. Jadi memang bisa mengurangi kadar asap. Tapi ‘kan hanya berkurang di tempat turunnya hujan itu saja, sementara tempat sumbernya tidak. Kalau sumber asapnya tidak turun hujan, otomatis asapnya tetap ada,” lanjutnya.

Selain itu, arah angin yang juga memengaruhi pergerakan asap dari tiga daerah tersebut. “Arah angin saat ini memang menuju ke Sumut. Tepatnya ke Barat Daya. Makanya, asap itu mengarah ke kita,” paparnya.

Kondisi ini dikategorikan berbahaya untuk masyarakat karenanya BMKG mengimbau mengurangi aktivitas di luar rumah. “Meskipun belum taraf mengganggu penerbangan, yang jelas aktivitas masyarakat harus dikurangi. Masyarakat jangan terlalu banyak beraktivitas di luar atau gunakan masker. Sebab kadar asap ini, bagi masyarakat, sudah di titik yang sangat berbahaya. Apalagi, kalau ada warga yang punya penyakit pernapasan atau ISPA, maka akan semakin mempengaruhi kesehatannya,” jelasnya.

Lalu bagaimana cara menanggulangi dampak asap?

1. Mohon bantuan seluruh warga Indonesia: Tolong bantu saudara kita di jambi, riau n daerah sumatra lainnya. Disana hanya tersisa 5% udara yang layak. Hanya dengan langkah kecil. Sediakan baskom air yang dicampur garam dan diletakkan diluar, biarkan menguap, jam penguapan air yang baik adalah sekitar pukul 11.00 s.d jam 13.00, dengan makin banyak uap air di udara semakin mempercepat Kondensasi menjadi butir air pada suhu yang makin dingin di udara. Dengan cara sederhana ini diharapkan hujan makin cepat turun, semakin banyak warga yang melakukan ini di masing-masing rumah, ratusan ribu rumah maka akan menciptakan jutaan kubik uap air di Udara. Lakukan ini satu rumah cukup 1 ember air garam, rabu tgl 22 Oktober 2015, jam 11 siang serempak.. Mari kita sama2 berusaha utk mnghadapi kabut asap yg kian parah ini.. Pesan ini adalah saran dari BMKG Indonesia Mohon diteruskan.. Kita selamatkan nasib anak2,balita,ibu hamil yang sudah mulai terkontaminasi oleh kabut asap yang tebal.
Terima kasih – mohon teruskan ke semua tem #Melawan asap
2. Diharapkan menutup semua ruangan untuk membersihkan udara di rumah bisa menggunakan fasilitas AC purifier nah kalo yang ngak pnya GIMANA? Caranya dengan menggunakan kipas angin yang ditutup dengan handuk yang sudah dibasahi dengan air dingin. Diharapkan air yg menguap mengikat butiran asap sehingga udara dalam rumah bersih. Cara ini perlu terutama warga yang memiliki bayi.
3. Di balik bencana asap tersebut, ternyata ada sedikit hikmah yang dapat diraih, yakni menjadi sebab tersendiri untuk datangnya rezeki.
Seperti diungkapkan Tanggang (41) yang sehari-hari berjualan masker di sekitaran Jalan Williem Iskandar Medan. “Ya, lumayanlah daripada hari-hari biasanya,” ujar Tanggang.
Sejak terjadinya kabut asap, ia mengaku barang dagangannya jadi lebih laku. Jika pada hari-hari biasa Tanggang hanya mampu menjual satu sampai tiga masker,
Masker yang dijual Tanggang adalah masker permanen yang bisa dicuci berulang kali, menurut Tanggang, masker jenis ini banyak diminati para kawula muda yang tetap ingin tampil gaya.

“Banyak anak muda yang cari model-model begini Bang, selain bisa lebih gaya, juga lebih awet ketimbang masker–masker biasa yang banyak dijual di apotek,” jelasnya.3. Untuk anak sekolah diharapkan menggunakan masker. Masalahnya masker hanya sekali pakai solusi lain bisa menggunakan slayer yang sudah di basai air agar dapat menyaring. Partikel asap sebaiknya setelah digunakan segera dicuci.

Semoga artikel ini membantu.

 

2 Comments

  • kenblesing daniel siboro October 24, 2015 at 12:50 pm

    Menurut yang pernah saya alami pada lahan gambut,,apabila kebakaran..dengan cara menyiram/menyemprot air, tidaklah cukup. Namun langkah yang cukup efektif mematikan api besert asapnya yakni Menggali (dalam bentuk batas)pada titik api

  • Niko sihotang October 24, 2015 at 2:15 pm

    Pak jokowi Cara mematikan api ditanah gambut yang cukup efekti yaitu Mengkorek tanah dengan cara memakai alat berat(beko)
    Agar api tidak melarat/menyebar..
    Dari petani gambut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *