Kabut asap semakin parah di duga ada design kebakaran hutan

October 22, 2015

Pembaca Cahyailmu.com. Kabut asap kabutbe. Asap semakin parah di duga ada design kebakaran hutan

Dikutip dari harian analisa di Medan, (Analisa). Kadar asap akibat kebakaran lahan atau hutan di tiga provinsi di Pulau Sumatera semakin pekat menutupi Sumatera Utara. Data Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Rabu (21/10) sore tercatat, jarak pandang akibat asap mulai menurun dari yang sebelumnya sempat 1.000-an meter berkurang menjadi hanya 800 meter, khususnya di sekitar area Bandara Internasional Kualanamu.

Kabid Data dan Informasi Wilayah I BMKG Medan, Sunardi, saat dikon­firmasi pada hari sama menyebutkan, jumlah titik api (hotspot) di tiga daerah sumber juga bertambah. “Memang lebih pekat hari ini. Jarak pandang di Kualanamu saja sampai pada angka 600 meter. Dibanding yang kemarin masih bisa 1.500 meter, hari ini asapnya lebih pekat, mencapai 800 meter,” ujarnya.

Kepekatan ini, lanjutnya, juga karena semakin bertambahnya hotspot-nya. “Kemarin (Selasa), wilayah Sumatera Selatan hotspot-nya cuma 147, hari ini mencapai 430. Di Riau juga nol tapi sudah 30-an malah bertambah,” tam­bahnya.

Kondisi asap yang menyelimuti Su­matera Utara belum bisa dipastikan me­nipis atau menebal. “Di Selatan, (Riau, Jambi dan Sumatera Selatan) itu masih berlangsung musim kemarau. Kemungkinan, potensi asap itu masih terus ada. Di bagian Selatan khatu­listi­wa itu ‘kan memang terkena efek El Nino. Karena itu potensi (asap) me­nyebar masih besar. Yang pasti, Sumut tak terkena imbas El Nino tapi asapnya mengarah ke kita,” sebutnya.

Karena itu, belum ada kepastian apakah asap tersebut bisa bergerak ke arah lainnya. “Kalau arah anginnya rata-rata ‘kan memang ke Tenggara dan Barat Daya. Jadi, pasti (asap) tetap ke kita (Sumatera Utara), anginnya ke atas ke wilayah Sumatera Utara,” lanjutnya.

Sebelumnya, Dokter Umar Zein, spe­sialis penyakit tropis mengatakan, ada lima warga per hari yang menge­luhkan masalah pernapasan akibat asap. Ke­luhan tersebut disampaikan masya­rakat di kliniknya yang berada di Jalan Denai, Medan.

Pantauan Analisa, Rabu (21/10), sejak pagi Kota Medan sudah diselimuti asap. Hingga malam, kabut asap juga tak menipis. Sebagian masyarakat yang beraktivitas tampak memakai masker, bahkan ada juga yang memakai oksigen.

Hingga Malam

Terpisah, pantauan Analisa sejak pagi kabut asap tebal mengurangi jarak pandang. Jalan raya dan bangunan ting­gi tak terlihat jelas karena tertutup asap. Situasi ini terus berlangsung hingga pukul 20.00 WIB dan baru terlihat mulai berkurang pukul 22.00 WIB.

Warga Kota Medan, Wahyu Sad­dam, mengatakan kabut asap hingga malam hari masih sama tebalnya seperti di siang hari. “Masih sama dengan siang Bang, tapi karena malam jadi terasa lebih gelap. Ini mengganggu aktivitas kita saat berkendara. Mata jadi perih dan tenggorokan juga jadi kering dan panas,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan Gita Survia Ningrum. Dia mengatakan kabut asap justru semakin tebal ketika menjelang sore hingga malam. “Tadi siang sekitar pukul 11.00 WIB waktu saya ke kampus masih bisa lihat jalan lumayan jauh, tapi tadi sore saat pulang ke kos sekitar pukul 17.00 WIB gitu nampak blur jalannya. Tertutup asap gitulah,” ujarnya.

Defrizal juga mengungkapkan hal serupa, kabut asap terasa lebih tebal dalam dua hari terakhir. Menurutnya hal ini terlihat jelas saat berkendara di jalan raya, jarak pandang menurun dan harus langit tidak terlihat.

“Kabur kelihatannya di jalan, jarak pandang jadi sempit tertutup asap. Tapi masih bisalah kelihatan kendaraan lain di depan kita,” ungkapnya.

Hingga pukul 22.00 WIB kabut asap masih cukup tebal meskipun sudah ber­kurang dibanding siang. (st/amal)

dikutip dari harian analisa Jakarta, (Analisa). Anggota DPR RI Firman Soebagyo mengatakan, keba­karan hutan dan lahan kali ini bersifat masif dan siste­matis seperti ada desain khu­sus, karena itu negara harus melihat bahwa kebakaran saat ini bukan peristiwa biasa sehingga perlu penanganan khusus.

“Kebakaran hutan kali ini bersifat masif dan sistematis. Masif karena ini terjadi di mana-mana, sistematis karena kasus keba­karan be­runtun dari Sumatera hingga Pa­pua,” kata Firman Soe­bag­yo di Senayan Jakarta, Rabu.

Karena itu, politisi seni­or Partai Golkar itu mendu­ga ada yang mendesain kasus kebakaran ini dengan men­jas­tifikasi kema­rau yang panjang.

Apa motivasi mendesain kebakaran hutan dan lahan. Menurut Wakil Ketua Ba­dan Legislasi (Baleg) DPR RI itu, moti­vasinya adalah ma­salah politik ekonomi. La­han yang terbakar sebagian besar adalah perkebunan kelapa sawit dan hutan pro­duksi untuk pembuatan ker­tas.

Sawit itu akan jadi lawan minyak nabati. Karena itu, asing melalui berbagai per­janjian internasional, terma­suk Perjanjian Norwegia, berusaha mematikan potensi nasional, katanya.

Firman meng­ingatkan pemerintah untuk objektif dan jangan asal menuduh apalagi memvonis perusahaan melakukan pem­bakaran tanpa memveri­fikasi terlebih da­hulu.

Firman juga meminta pemerintah tidak asal mempercayai per­nyataan beberapa LSM, ka­re­na banyak dari mereka menjadi operator kepenting­an asing. Karena ada kasus di Kalimantan Barat (Kal­bar), di ma­na pemerintah mencabut izin usaha PT MAS.

Ini lucu karena PT MAS di Kalbar belum mendapat izin beroperasi, tetapi peme­rintah mengumumkan men­ca­but izinnya. Karena itu saya berkali-kali meminta BIN dan aparat Kepolisian untuk menyelidiki LSM-LSM yang suka mendiskre­ditkan kebijakan nasional, katanya.

Sementara itu, advokat dan Koordinator Tim Pem­bela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Selestinus menyayangkan sikap peme­rintah dalam menangani persoalan kebakaran hutan dan lahan seperti mengha­dapi kasus kejahatan tindak pidana ringan (Tipiring), di mana si pelaku dipanggil hadir dalam suatu persi­dangan kilat hanya untuk mendengarkan vonis hakim tanpa ada proses pembelaan sedikit pun.

Pememerintah seolah menjadi hakim yang seenak­nya memvonis pemilik perusa­haan sebagai pelaku pembakaran hutan tan­pa proses hukum. Ini jelas me­langgar asas negara hukum dan bergaya Orde Baru, ka­tanya.

Di pihak lain, katanya, ada perusahaan yang dituduh membakar hutan, tetapi tanpa disertai bukti-bukti valid. Kemudian peru­sahaan itu diberi sanksi. Padahal dari satelit yang dimiliki perusahaan tersebut dengan jelas membuktikan bahwa keba­karan ter­nyata berada di luar lahan perke­bunan. Bah­kan titik awal kebakaran justru ada di luar lokasi perkebunan.

“Ini membuktikan bagai­mana mungkin perusahaan mau membakar lahan sawit atau hutan produksinya sen­diri. Kan aneh dan tidak lo­gis,” kata Petrus. (

Tidak hanya itu mungkin saja penyebab semakin tebal kabut asap karena Medan, (Analisa). Ditres Narkoba Poldasu bersama Polres Madina memusnahkan 5 hektare (ha) ladang ganja di kawasan perbukitan Tor Sihite, Desa Raorao Dolok, Kecamatan Tambangan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Dari penemuan dan pemusnahan ladang ganja itu, petugas juga mengamankan 2 tersangka, L warga Huta Tongah yang diduga pemilik ladang, dan S warga Huta Bangun yang diduga penjaga ladang.

Direktur Ditres Narkoba Poldasu, Kombes Pol Reinhard Silitonga kepada Analisa, Rabu (21/10) mengatakan, penemuan ladang ganja itu berawal dari pengembangan penangkapan seorang tersangka L. Berbekal informasi itu, petugas mengembangkannya dengan menyisir lokasi ladang ganja di sekitar kawasan perbukitan Tor Sihite.

Menuju ke lokasi yang dimaksud, petugas butuh waktu sekira 8 jam perjalanan dari Kota Madina. Tak sampai di situ, sebelum masuk ke kawasan perbukitan Tor Sihite, petugas harus berjalan kaki terlebih dahulu untuk sampai ke lokasi.

Kawasan perbukitan yang sedikit terjal itu, kata Dir Narkoba, memang sengaja dipilih pelaku untuk menanam ganja agar tidak mudah diendus aparat kepolisian. Namun usaha yang digunakan pelaku untuk mengelabui petugas sepertinya gagal.

“Lokasi yang kami tuju memakan waktu sekira 8 jam perjalanan dari Kota Madina. Sampai di lokasi, petugas menemukan lima ha ladang ganja yang siap panen. Kami juga mengamankan seorang yang diduga penjaga ladang,” jelasnya.

Usai menemukan ganja siap panen, selanjutnya petugas memusnahkan ganja-ganja itu dengan cara dicabut lalu dibakar. Selanjutnya beberapa batang ganja dibawa ke Poldasu untuk dijadikan sampel sebagai barang bukti.

“Ganja-ganja itu langsung kami musnahkan di lokasi dengan cara dibakar. Tapi ada yang kami amankan untuk dijadikan sampel sebagai barang bukti,” tukasnya.

Reinhard menambahkan, pihaknya terus mengungkap peredaran narkoba di wilayah hukum Poldasu. Untuk itu informasi dan kerja sama masyarakat sangat dibutuhkan untuk memutus mata rantai peredaran narkoba.

“Kami terus berupaya memutus mata rantai peredaran narkoba di Sumut. Jadi kami sangat berharap kerja sama warga untuk bisa memberikan informasi kepada petugas di lapangan,” tukasnya. (yy)

Related Post

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *