Buku perpustakaan Kalimantan di loak

November 21, 2015

Astagfirullah buku negara diloak? Dikutip dari harian Jawapos
PONTIANAK, KOMPAS.com- Ribuan buku berbagai judul dan berstempel Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kalbar dijual ke sebuah tempat penampungan barang bekas di Pontianak awal pekan ini.

Ribuan buku itu yang diangkut menggunakan satu unit mobil perpustakaan keliling itu beratnya lebih dari satu ton.

Namun, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpusda Kalbar, Untad Dharmawan, membantah pihaknya telah menjual buku-buku tersebut ke pengepul barang bekas.

Menurutnya, buku milik Perpusda Kalbar tidak boleh diperjualbelikan.

Untuk membuktikan hal itu, Tribun Pontianak mendatangi lokasi penampungan barang bekas, Selasa (17/11/2015) siang.

Di sana, sejumlah pekerja sedang melepas sampul buku-buku itu satu per satu. Entah sudah berapa banyak buku yang dikupas sampulnya.

Buku yang telah dikupas sampulnya kemudian dimasukkan ke dalam karung beras berukuran 50 kilogram. Setiap karung yang telah penuh terisi buku, diikat erat.

Tak jauh dari tumpukan karung-karung tersebut, tergeletak 5 dus besar yang berisi ratusan buku. Buku-buku dalam kardus tersebut, belum seluruhnya dikuliti sampulnya.

Tribun kemudian memilah-milah buku mana saja yang masih bisa diselamatkan. Setelah dipilah, Tribun menebus 60 kilogram buku aneka jenis.

Buku-buku tersebut, kemudian dikembalikan ke Perpusda Kalbar, pada Rabu (18/11/2015).

Mengetahui buku-buku tersebut akan disumbangkan, pemilik penampungan barang bekas, sebut saja bernama Ian, langsung memberikan potongan harga.

“Saya akan kurangi harganya. Kalau tadi Rp 2.500 per kilogram, sekarang Rp 1.500 pun satu kilogram tak apa-apa,” katanya.

Ia mengatakan buku-buku ini disortir dengan cara dikuliti sampul. Buku yang “telanjang” selanjutnya dikirim ke pengepul kertas yang lebih besar di Jakarta untuk didaur ulang.

Selain dijual lagi ke Jakarta, buku juga dijual kepada siapa saja yang hendak membelinya. Ian menjualnya Rp 2.500 per kilogram.

Ian mengaku membeli ribuan buku tersebut seharga Rp 1.100 per kilogram atau sekitar Rp 1 juta lebih.

“Hari Minggu kemarin datang (Buku. Red) nya. Orang pakai mobil Perpustakaan Keliling yang datang, bawa buku ini ke sini,” ucap Ian.

Ia menuturkan tiga orang yang datang mengendarai mobil Perpustakaan Keliling tersebut menjual buku kepadanya.

Namun, ia tidak mengetahui siapa ketiga orang tersebut. Ia enggan bertanya-tanya, karena ia hanya membeli barang bekas dari orang yang hendak menjualnya.

Setelah ditimbang, ribuan buku tersebut beratnya lebih dari 1 ton. Selain dibeli Tribun, buku-buku yang masih terlihat bagus itu, dibeli juga seorang pria yang memborong 200 kilogram buku.

Ian mengatakan, menurut pemilik penampungan sebelumnya, pernah juga ada yang datang menjual buku milik Perpusda Kalbar.

Saat itu, bahkan berat buku yang dijual mencapai 3 ton. “Dua tahun yang lalu, malah lebih banyak. Sampai empat kali angkut pakai mobil,” tuturnya.

&nbsp
Meloak buku milik negara itu tindakan biadab dan tidak terpuji. Seseorang yang tidak menghargai pengetahuan yang ada di buku adalah orang yang bodoh. Seperti kata pepatah di dubito aku berpikir karena itu aku ada.

Seharusnya ilmu pengetahuan itu dilestarikan bukan dimusnahkan dengan di loak dan dijadikan kertas baru yang tak berharga.  Sebuah kertas berharga jika ada pengetahuan didalamnya itulah buku

 

Related Post

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *